guru SMA sedang mengajar

“Jejakmu abadi dalam setiap mimpi yang berhasil kami raih. Selamat Hari Guru.”

Waktu adalah pencuri ingatan yang paling ulung. Seiring berjalannya tahun, kita mungkin lupa pada tanggal-tanggal sejarah yang dulu kita hafal mati-matian demi nilai ujian. Kita mngkin lupa rumus fisika yang dulu membuat kepala kita pening, atau bait puisi yang kita baca terbata-bata di depan kelas. Wajah teman-teman sebangku mungkin mulai samar, dan nama-nama yang dulu kita panggil setiap hari perlahan tertimbung oleh kesibukan dewasa.

Namun, ada satu hal yang tidak bisa dicuri oleh waktu, tidak bisa dihapus oleh usia, dan tidak bisa luntur oleh jarak. Itu adalah “rasa”. Rasa ketika seseorang percaya pada kita, saat kita sendiri bahkan ragu pada kemampuan diri. Rasa ketika bahu kita ditepuk pelan setelah kegagalan, disertai senyum tulus yang berkata, “Coba lagi, Nak.”

Di sinilah letak keabadian seorang guru.

Hari ini, kita beridiri di puncak pencapaian masing-masing. Mungkin ada dari yang kini memimpin perusahaan besar, ada yang menjadi dokter menyelamtkan nyawa, ada yang menjadi seniman yang karyanya dipuji dunia, atau menjadi orangtua yang mendidik anak-anaknya dengan kasih sayang. Kita sering merasa bangga dengan apa yang kita raih, Kita merasa ini adalah hasil kerja keras kaki kita sendiri.

Benar, itu adalah kaki kita yang melangkah. Tapi, pernahkan kita berhenti sejenak dan bertanya: Siapa yang dulu mengajari kaki ini untuk berdiri tegak? Siapa yang memapah kita saat kita belum tahu arah?

Jejakmu abadi dalam setiap mimpi yang berhasil kami raih.

Kalimat ini bukan sekadar slogan manis di kartu ucapan, Ini adalah pengakuan jujur yang sering terlambat kita sadari. Guru bukanlah sekadar penyalur informasi. Jika hanya itu tugasnya, maka di era digital ini, guru sudah lama tergantikan oleh mesin pencari. Tapi tidak. Guru adalah arsitek jiwa. Mereka tidak membangun gedung, mereka membangun manusia.

Ingatkah engkau pada Bapak Guru yang tetap datang mengajar meski seragamnya basah kuyup oleh hujan, hanya agar kita tidak ketinggalan pelajaran? Atau Ibu Guru yang suaranya serak menahan batuk, tapi tetap lantang menjelaskan materi agar kita paham? Saat itu, mungkin kita yang masih muda dan naif, menertawakan kapur yang patah atau spidol yang habis tintanya. Kita mengeluh saat diberi tugas, kita mendumel saat ditegur karena ribut.

Kita tidak tahu, bahwa di balik teguran itu, ada doa yang mereka langitkan. Di balik tumpukan tugas itu, ada harapan besar agar kita tumbuh menjadi manusia yang tangguh, bukan generasi yang lembek.

Seorang Bu Guru Sedang Mengajar Pada Anak Muridnya
Seorang Bu Guru Sedang Mengajar Pada Anak Muridnya

Guru adalah orang-orang yang rela menjadi “jembatan”. Mereka merendahkan diri, membiarkan punggung mereka diinjak oleh murid-muridnya, agar kita bisa menyeberang dari ketidaktahuan menuju kecerdasan, dari kegelapan menuju masa depan yang terang benderang. Dan layaknya jembatan, seringkali setelah kita sampai di seberang yang indah, kita lupa menengok ke belakang. Kita lupa pada jembatan tua yang kokoh itu.

Namun, sadarkah kita? Setiap kali kita bersikap jujur dalam pekerjaan, itu adalah jejak didikan guru kita tentang integritas. Setiap kali kita berpikir kritis menyelesaikan masalah, itu adalah jejak guru kita yang melatih logika. Setiap kali kita santun berbicara kepada orang lain, itu adalah jejak guru kita yang mengajarkan adab.

Mereka ada di dalam diri kita. Mengalir dalam darah kebiasaan kita, hidup dalam cara berpikir kita. Mereka tidak meminta namanya dipahat di gedung pencakar langit yang kita bangun. Mereka tidak meminta royalti dari gaji besar yang kita terima. Kebahagiaan mereka sederhana: mendengar kabar bahwa muridnyaβ€”yang dulu nakal, yang dulu pemalu, yang dulu sering telatβ€”kini telah menjadi “orang”.

Menjadi guru adalah profesi yang sunyi dari tepuk tangan, namun riuh oleh tanggung jawab. Mereka memegang masa depan bangsa ini di tangan kanan, dan memegang kesabaran luar biasa di tangan kiri. Mereka menghadapi ratusan karakter kepala yang berbeda setiap tahunnya, mencoba menemukan kunci untuk membuka potensi di setiap kepala itu.

Maka, di Hari Guru ini, izinkan kami menyampaikan lebih dari sekadar ucapan terima kasih.

Terima kasih untuk kesabaran yang seluas samudra, saat menghadapi kenakalan kami yang tak ada habisnya. Terima kasih untuk ilmu yang tak pernah kalian pelitkan, meski gaji kalian mungkin tak sebanding dengan lelah yang kalian rasakan. Terima kasih telah menjadi orang tua kedua, sahabat, dan terkadang polisi bagi kedisiplinan kami.

Wahai Guruku, mungkin kami tidak bisa membalas jasamu dengan materi yang setimpal. Mungkin kami tidak bisa mengembalikan waktu mudamu yang habis di depan papan tulis. Tapi ketahuilah satu hal: Engkau hidup dalam keberhasilan kami.

Setiap tanda tangan yang kami goreskan dalam kesuksesan, ada tinta darimu di sana. Setiap piala yang kami angkat, ada keringatmu di sana. Setiap kebaikan yang kami tebar ke dunia, ada benih yang dulu kau tanam di hati kami.

Engkau tidak pernah benar-benar pensiun. Karena ajaranmu terus estafet, dari kami ke anak-anak kami, dan seterusnya. Engkau adalah pelita yang apinya tak pernah mati, karena apimu telah menyulut ribuan lilin-lilin kecil lainnya yang kini tersebar menerangi penjuru dunia.

Maafkan kami yang dulu mungkin sering melukai hatimu. Maafkan kami yang jarang memberi kabar setelah lulus. Tapi percayalah, nama kalian terselip dalam doa-doa diam kami.

Selamat Hari Guru Nasional. Teruslah menjadi pelita, teruslah menginspirasi. Karena dunia ini butuh lebih banyak cahaya, dan cahaya itu bermula dari ruang kelas sederhana di mana engkau berdiri.

Jejakmu abadi, Guruku.

Leave A Comment